Wednesday, May 10, 2017
Pendidikan dengan pemahaman
Dalam dunia pendidikan, pendekatan aturan terkadang membuat masalah
semakin runyam. Sebaliknya, menanamkan pemahaman seringkali lebih sukses
dalam menyelesaikan masalah.
ANDAI DIRI INI ADALAH TUMBUHAN.....
Oleh : Herry Eko Jaya Putra
Andai diri ini adalah tumbuhan, sudah fitrahnya untuk
terus tumbuh dan berkembang. Tumbuh menjadi pohon besar dengan akar yang
menghujam ke bumi, cabang yang tinggi dan rindang menaungi, sebagai tempat
berlindung dari panas yang membahana, atau tumbuh menjadi tanaman berbunga yang
akan menghiasi dunia dengan keindahan dan keharumannya atau menghasilkan buah
yang manis dan bermanfaat bagi semua.
Setiap tumbuhan telah ditetapkan potensinya. Semua “tertulis”
pada untaian takdir DNA. Ia kan tumbuh dengan segenap potensi tersebut, dengan
syarat segala kebutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangannya dapat terpenuhi. Mungkin
intan akan tetap menjadi intan walau diletakkan di tempat yang kotor dan berdebu,
namun pesona keindahannya kan hilang tertutup debu dan kotoran. Bibit pohon
besar tidak akan menjadi pohon besar bila tumbuh di tanah yang kurang
bernutrisi, atau lingkungan yang tidak cukup air dan cahaya. Pada kondisi
demikian, potensi pohon besar yang dimilikinya tidak akan terekspresikan secara
sempurna. Fenotip adalah hasil interaksi antara genetik dan lingkungan, setidaknya begitu kata
orang biologi.
Tuesday, December 27, 2016
SEBUAH REFLEKSI MATA KULIAH FILSAFAT ILMU
Oleh:
Herry Eko Jaya Putra
Filsafat
bukanlah topik yang umum untuk dibicarakan. Tidak banyak orang yang memahami
makna sebenarnya dari berfilsafat. Namun yang banyak diketahui oleh masyarakat
kita hari ini adalah stigma negatif yang tersemat padanya. Seorang muslim yang
mengkaji filsafat mungkin saja akan dianggap berbahaya atau bahkan dianggap
sesat oleh beberapa pihak. Betapa tidak, pemikiran filsafat ini telah
melahirkan berbagai pemahaman sesat dalam agama seperti kelompok mu’tazilah dan
syi’ah. Sebagiannya lagi menyebabkan keragu-raguan dalam agama sehingga membawa
kepada atheisme. Beberapa ulama pun mengharamkan pengkajian filsafat karena
mengkhawatirkan potensi bahaya yang dapat ditimbulkannya. Tetapi apakah benar
filsafat adalah barang berbahaya yang harus dihindari atau ia hanya sebagai
alat berpikir seperti pisau yang nilai gunanya sangat bergantung kepada siapa,
bagaimana dan tujuan orang yang menggunakannya.
Kita
tidak boleh menutup mata bahwa masa kegemilangan ilmu pengetahuan umat Islam di
abad ke 7 M terjadi justru saat umat Islam bersentuhan dengan karya-karya
filsuf Yunani. Karya-karya ini kemudian menginspirasi dan melahirkan banyak
pemikir muslim di zaman tersebut seperti Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, Al-Kindi, Al-Jabbar
dll yang jumlahnya jauh melebihi jumlah para filsuf Yunani sebelumnya.
Karya-karya yang dihasilkan oleh pemikir Islam pun ketika itu memiliki jumlah
yang lebih banyak dibandingkan karya yang telah dihasilkan oleh filsuf Yunani.
Pada
masa itu, masyarakat Eropa (Barat) masih terbelakang dan tenggelam dalam zaman
kegelapan (dark age) sedangkan Islam
berada dalam zaman keemasan dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang gemilang.
Seorang penulis Amerika menggambarkan keadaan Eropa pada masa itu sebagaimana
berikut: "Jika matahari telah terbenam, seluruh kota besar Eropa akan terlihat
gelap gulita. Di sisi lain, Cordova terang benderang disinari lampu-lampu umum.
Eropa sangat kumuh, sementara di kota Cordova telah dibangun seribu WC umum.
Eropa sangat kotor, sementara penduduk Cordova sangat concern dengan kebersihan. Eropa tenggelam dalam lumpur, sementara
jalan-jalan Cordova telah mulus. Atap istana-istana Eropa sudah pada bocor, sementara
istana-istana Cordova dihiasi dengan perhiasan yang mewah. Para tokoh Eropa
tidak bisa menulis namanya sendiri, sementara anak-anak Cordova sudah mulai
masuk sekolah”. Semua itu terjadi akibat perkembangan cara berpikir umat Islam
saat bersentuhan dengan filsafat, dari sebelumnya hanya mengkaji ilmu-ilmu seputar
agama hingga kemudian juga mengkaji ilmu-ilmu alam dan umum. Kita tidak dapat
menutup mata bahwa pada kenyataannya filsafat telah menghantarkan banyak
perkembangan ilmu pengetahuan seperti yang kita rasakan saat ini.
Sebagai
sebuah alat, bahaya dan manfaat filsafat sangat bergantung kepada siapa, bagaimana
dan tujuan dari si pengguna alat. Filsafat dapat dipahami secara sekuler namun filsafat
juga dapat dipahami dengan berlandaskan kepada Islam. Filsafat hanyalah alat,
bukan tujuan.
Wednesday, October 12, 2016
Makalah Mikrobiologi: Perdebatan Generatio Spontanea
Oleh: Herry Eko Jaya Putra
A. Pendahuluan
A. Pendahuluan
Perkembangan
ilmu pengetahuan tidak luput dari perbedaan pendapat, terutama pada topik yang
tidak dapat diamati langsung oleh manusia. Hal demikian adalah sesuatu yang
wajar, dikarenakan keterbatasan informasi yang dimiliki dan sudut pandang
berbeda dari para ahli dalam merasionalkan berbagai fenomena tersebut seperti
yang terjadi pada topik tentang bagaimana asal mula kehidupan di bumi.
Pertanyaan
tentang asal mula kehidupan di bumi ini sudah ada sejak zaman dahulu kala. Dahulu,
orang-orang percaya kehidupan ini diciptakan oleh kekuatan supranatural (Tuhan).
Namun penjelasan ini tidak memuaskan akal pikiran manusia karena tidak dapat
dijelaskan secara rasional. Untuk itu, manusia mencari penjelasan logis atas
permasalahan ini dengan menggunakan akal pikirannya. Sudah banyak teori yang dikemukakan,
namun tetap saja belum ada jawaban yang memuaskan.
Diantara
sekian banyak teori yang dikemukakan, teori generatio
spontanea dan teori biogenesis
adalah teori yang paling hangat diperbincangkan. Generatio spontanea
beranggapan bahwa makluk hidup pertama muncul di bumi dari benda mati secara
spontan. Pendapat ini bertahan cukup lama sejak zaman Yunani kuno hingga kemudian
ditolak oleh para pendukung teori biogenesis sekitar abad ke-17 yang menyatakan
bahwa makhluk hidup berasal dari makhluk hidup sebelumnya. Walaupun kedua teori
ini belum mampu memberikan penjelasan yang memuaskan bagaimana makhluk hidup
pertama muncul, namun setidaknya perdebatan ini memicu telah perkembangan ilmu
pengetahuan dibidang mikrobiologi.
Tuesday, September 20, 2016
PEMIMPIN DAN PEMANAH
Oleh: Herry Eko Jaya Putra
Menjadi pemimpin itu terkadang sama dengan menjadi
pemanah, sebagaimana menjadi anggota (yang dipimpin) juga bisa diibaratkan
sebagai anak panah. Sebuah anak panah akan melesat seperti apa yang diarahkan
oleh pemanah. Berhasil tidaknya anak panah mencapai target akan sangat dipengaruhi oleh
bagaimana si pemanah melepaskan anak panahnya.
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan anak panah
melesat mencapai target dengan tepat, maka beberapa hal yang perlu dilakukan oleh si pemanah
adalah sebagai berikut.
1. Sebelum
memulai memanah, pemanah harus mampu menetapkan target yang realistis dengan
menyesuaikan kondisi busur, tali, anak panah, jarak dan cuaca yang mungkin akan
mempengaruhi anak panah saat melesat. Artinya, seorang pemimpin harus memiliki kemampuan
dalam menyusun perencanaan dengan baik. Menyesuaikan target yang ingin dicapai
dengan kondisi SDM, anggaran dan dinamika sosial yang mungkin akan mempengaruhi
anggota saat menjalankan tugas.
Monday, August 29, 2016
POHON ILMU
Oleh
: Herry Eko Jaya Putra
Dua pohon hidup ditanah yang sama, mendapatkan udara dan cahaya yang sama
namun tumbuh dengan cara yang berbeda. Satu pohon tumbuh memiliki akar yang
kuat dan menghujam kedalam tanah. Batangnya besar dan tumbuh tinggi menjulang
dengan cabang yang rindang. Pohon itu berdiri dengan kokohnya, tak goyah oleh
tiupan angin kencang sekalipun. Pohon kedua, tumbuh dengan akar serabut,
batangnya kurus namun tinggi, nyaris tak bercabang. Batangnya condong kebawah,
meliuk-liuk saat ditiup angin kencang, menunggu waktu untuk patah atau
tercerabut dari tanah.
Dua
orang penuntut ilmu, belajar disekolah yang sama, dengan guru yang sama, waktu
yang sama dan buku yang sama. Seorang murid memahami ilmunya dengan sangat
baik, berpikir kritis dan rasa ingin tahu yang tinggi sehingga membuat ia
menguasai ilmunya dengan sempurna dengan hujjah yang kuat. Ia tak mudah
dipengaruhi, tak mudah dibuat ragu atas ilmu dan keyakinannya walau betapa
kencangnya ghazwhul fikri. Murid yang lain belajar dengan apa adanya dan
memahami ilmu apa adanya. Ia menguasai ilmunya apa adanya dengan hujjah yang
seadanya pula. Saat ghazwul fikri menghampirinya, ia menjadi ragu atas ilmu
yang telah dipelajarinya selama ini, pemikirannya terseret, terbawa arus
ghazwul fikri.
Wednesday, August 24, 2016
DON'T GET LOST IN SCIENCE
Oleh:
Herry Eko Jaya Putra
Ribut-ribut
soal bumi datar (flat earth) atau berbentuk bola (ball earth) ini akhirnya
menggelitik alam pikiran saya, sebagaimana sebelumnya saya juga tertarik dengan
diskusi pro-kontra tentang vaksinasi dan evolusi. Ini bermula dari seorang
siswa saya yang dengan sangat meyakinkan menyatakan bahwa bumi ini sebenarnya berbentuk datar dengan segala
argumennya. Beberapa pertanyaan dan keraguan yang saya ajukan pun mampu
dijelaskannya dengan mantap. Akhirnya saya putuskan untuk mengumpulkan
informasi seputar perdebatan ini.
Hal
pertama yang saya lakukan adalah mendownload dan menonton video tentang
“Ternyata Bumi Datar” dari youtube sebagaimana yang direkomendasikan oleh siswa
saya. Walhasil, video tersebut berhasil membuat saya tercengang dengan
penjelasan-penjelasannya yang sangat meyakinkan. Namun, saya tidak puas dengan
satu sumber, maka sayapun menonton dan membaca sumber lainnya baik yang
mendukung maupun bertentangan dengan flat
earth.
Pada
tulisan ini saya tidak akan menjelaskan mana yang benar dan mana yang salah,
karena saya yakin pembaca mampu menentukan sendiri dengan banyaknya informasi
yang tersedia dari internet baik yang pro maupun kontra. Namun, saat siswa saya
bertanya saya pilih yang mana? saya pilih yang ilmiah, bukan yang terkesan
ilmiah. Bila ditanya bagaimana pendapat saya tentang kata Al-Qur’an tentang
bumi? Saya akan menjawab bahwa Al-Qur’an tidak menyatakan secara eksplisit
bagaimana bentuk bumi, melainkan hanya secara tersirat sehingga dapat
melahirkan penafsiran yang berbeda-beda. Yang penting adalah bentuk bumi datar atau bola tidak akan mengubah jadwal waktu shalat dan penghitungan kalender hijriah. Maghrib akan tetap terjadi saat matahari tenggelam hingga hilangnya cahaya merah (syafaq) di langit barat, kemudian masuk Isya hingga munculnya fajar shadiq di ufuk timur lalu masuklah waktu shubuh dan seterusnya. Jelasnya, selama perdebatan ini tidak mempengaruhi jadwal ibadah kita itu tidak masalah. Tapi, jika perdebatan ini mengarah pada perubahan cara penghitungan kalender hijriah dan jadwal waktu shalat, maka itu merupakan masalah besar yang harus diselesaikan oleh para ahli. Terutama Ilmuwan Muslim.
Hasil
pencarian tersebut kemudian menjadi bahan diskusi dan berujung pada kesimpulan
sebagai berikut:
Pertama,
tidak ada teori sains yang bersifat kekal, ia dapat berubah seiring
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan ditemukannya bukti-bukti terbaru.
Sains bersifat dinamis.
Kedua, alam semesta ini terlalu luas untuk disederhanakan. Pengetahuan kita hari ini belumlah final, masih banyak rahasia yang belum terungkap.
Ketiga, konsep-konsep sains yang tidak dapat diamati langsung seperti bentuk bumi, gravitasi, asal-usul makhluk hidup, evolusi, pembentukan alam semesta dan lain-lain, berpeluang besar terjadi perbedaan pendapat. Semakin abstrak suatu konsep maka semakin besar kemungkinan terjadinya perbedaan pemahaman.
Ketiga, konsep-konsep sains yang tidak dapat diamati langsung seperti bentuk bumi, gravitasi, asal-usul makhluk hidup, evolusi, pembentukan alam semesta dan lain-lain, berpeluang besar terjadi perbedaan pendapat. Semakin abstrak suatu konsep maka semakin besar kemungkinan terjadinya perbedaan pemahaman.
Keempat,
munculnya pro-kontra terhadap konsep yang tidak dapat diamati langsung
itu adalah hal biasa karena dapat dipengaruhi oleh subjektifitas dan perbedaan
sudut pandang.
Kelima, sikap terbaik saat menghadapi dua
konsep yang bertentangan adalah bersikap dan berfikir ilmiah. Diantara sikap
ilmiah yang dilakukan adalah tidak mudah percaya dan tidak menutup diri
terhadap perkembangan dan informasi baru. Berfikirlah ilmiah dengan cara
mengumpulkan informasi selengkap mungkin dari kedua sumber. Bukannya hanya dari
salah satu sumber, sehingga membuat pikiran kita terkoptasi.
Keenam, jangan terburu-buru mengklaim sebuah
informasi adalah benar atau salah hanya karena informasi tersebut masuk akal
dan logis atau tidak masuk akal dan tidak logis. Pahamilah bahwa logika
bukanlah bukti ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Tidak semua yang masuk akal adalah benar, sebagaimana juga tidak semua yang tidak masuk akal adalah salah. Karena manusia memiliki akal yang terbatas untuk dapat memahami semua peristiwa yang terjadi. Sebelum memutuskan,
pelajarilah informasi tersebut lebih dalam, darimana asalnya, kebenaran isinya,
motifnya dan lain-lain.
Ketujuh, bukan konspirasi namanya bila dapat dibantah dengan mudah. Konspirasi harus mampu membuat fakta seolah-olah opini dan membuat opini seolah-olah fakta.
Kedelapan, berfikir kritis dan Cerdas dalam
menerima dan mengolah informasi dapat mencegah kita tersesat dalam ilmu
pengetahuan.
Wallahua’lam.
Monday, August 22, 2016
Berpikir Radikal, Salahkah?
Oleh:
Herry Eko Jaya Putra
Ada stigma
negatif yang tersemat dan terbayang saat mendengar kata-kata radikal. Buktinya,
banyak orang yang menghindar dan tidak ingin dikatakan radikal. Beberapa organisasi/gerakan
yang dicap radikalpun selalu dipantau setiap aktifitasnya dan terancam
dibubarkan. Bahkan, untuk sekedar menyusun tulisan ini dengan judul radikal saja
membuat saya ragu pada awalnya, karena khawatir dianggap mengikuti paham
radikalisme apalagi terorisme.
Namun, benarkah
segala sesuatu yang bersifat radikal itu salah dan negatif?
Monday, April 25, 2016
"Miskonsepsi" tentang Hukum Mendel?
Oleh: Herry Eko Jaya Putra
Ilmu genetika tidak akan pernah melupakan jasa seorang ahli botani berkebangsaan Austria yang bernama Gregor Johann Mendel (1822-1884). Ia menyilangkan kacang ercis (Pisum sativum) dengan hati-hati berulang kali selama 12 tahun, kemudian hasil persilangan ditanam dan di amati. Dari pengamatannya, Mendel mengembangkan teori pewarisan sifatnya beberapa dasawarsa sebelum kromosom dapat terlihat dengan mikroskop dan nilai penting kromosom dipahami. Saat itu teori Mendel belum diakui. Setelah ditemukannya berbagai teknologi pada abad ke-20 terutama mikroskop elektron, barulah teori Mendel diakui menjadi sebuah hukum dimana saat itu ia sudah meninggal. Hukum pewarisan Mendel adalah hukum mengenai pewarisan sifat pada organisme yang dijabarkan dalam karyanya “Percobaan Mengenai Persilangan Tanaman” dan kemudian menjadi dasar bagi perkembangan ilmu genetika.
Ilmu genetika tidak akan pernah melupakan jasa seorang ahli botani berkebangsaan Austria yang bernama Gregor Johann Mendel (1822-1884). Ia menyilangkan kacang ercis (Pisum sativum) dengan hati-hati berulang kali selama 12 tahun, kemudian hasil persilangan ditanam dan di amati. Dari pengamatannya, Mendel mengembangkan teori pewarisan sifatnya beberapa dasawarsa sebelum kromosom dapat terlihat dengan mikroskop dan nilai penting kromosom dipahami. Saat itu teori Mendel belum diakui. Setelah ditemukannya berbagai teknologi pada abad ke-20 terutama mikroskop elektron, barulah teori Mendel diakui menjadi sebuah hukum dimana saat itu ia sudah meninggal. Hukum pewarisan Mendel adalah hukum mengenai pewarisan sifat pada organisme yang dijabarkan dalam karyanya “Percobaan Mengenai Persilangan Tanaman” dan kemudian menjadi dasar bagi perkembangan ilmu genetika.
Hukum
ini terdiri dari dua bagian, yaitu hukum 1 Mendel yang dikenal dengan hukum
pemisahan (segregation) dan hukum 2 Mendel
yang dikenal sebagai hukum berpasangan secara bebas (independent assortment). Pada kebanyakan buku
pelajaran disekolah, hukum 1 mendel dijelaskan dengan persilangan monohibrid
dan hukum 2 mendel dijelaskan melalui persilangan dihibdrid. Sebenarnya tidak
ada yang salah dengan hal tersebut, karena memang hukum 1 Mendel dapat dibuktikan
dengan memperhatikan satu sifat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Begitu juga dengan hukum 2 Mendel dapat dibuktikan dengan memperhatikan
kombinasi-kombinasi yang terbentuk dari dua sifat atau beberapa sifat yang
diamati dari hasil persilangan. Masalahnya adalah efek yang timbul dari
penjelasan tersebut. Beberapa efek pemahaman yang muncul dikalangan guru maupun
siswa tentang hukum mendel tersebut antara lain sebagai berikut.
1.
Hukum 1 Mendel hanya berlaku untuk persilangan monohibrid
2.
Hukum 2 Mendel hanya berlaku untuk persilangan dihibrid atau polihibrid
3.
Hukum 1 dan hukum 2 Mendel seolah-olah adalah 2 hukum yang terpisah
4.
Bila ditanya tentang hukum 1 atau hukum 2 Mendel, yang paling diingat
adalah persilangan monohibrid atau dihibridnya
5.
Jika ditanya bunyi hukum 1 atau 2 mendel, agak kesulitan menjawab
disebabkan karena hukum tidak dijelaskan dengan baik oleh guru atau buku
pelajaran di sekolah. Yang banyak adalah penjelasan tentang persilangan monohibrid
dan dihibrid.
Untuk mengetahui bagaimana
sebenarnya hukum Mendel ini, mari kita lihat satu persatu.
Friday, February 19, 2016
BELAJAR KEJUJURAN DAN AMAR MA'RUF NAHI MUNKAR DARI MATEMATIKA
Oleh: Herry Eko Jaya Putra
Matematika selalu mengajarkan kejujuran kepada kita dalam tiap
operasinya. Saat sebuah operasi matematika menggunakan tanda “=” itu berarti jumlah
bilangan di ruas kiri pastilah sama dengan jumlah bilangan disebelah kanan, tidak
boleh berbeda. Begitu juga dengan tanda >, < atau ≠ semuanya akan
menjelaskan bilangan sesuai dengan tanda bilangan yang kita gunakan. Matematika
mengajarkan kepada kita untuk bersikap objektif dan apa adanya, itulah sebabnya saya
mengatakan bahwa matematika adalah ilmu tentang kejujuran.
Saat kita meletakkan bilangan yang tidak sesuai dengan
tanda, maka saat kita telah melakukan kesalahan dalam operasi bilangan. Kesalahan pada satu tahap operasi
bilangan, akan menyebabkan kesalahan beruntun pada operasi-operasi berikutnya.
Oleh sebab itu, kejujuran harus dilakukan pada setiap tahap dan proses operasi
bilangan hingga selesai. Matematika mengajarkan kita untuk jujur pada setiap
kondisi, dari awal hingga akhir.
Kejujuran ini juga digambarkan oleh matematika dalam hal
merespon perilaku negatif, sebagaimana prinsip amar ma’ruf nahi munkar.
Perhatikan gambar berikut:
RUMUS 1
Matematika mengajarkan kita untuk jujur dalam merespon
sebuah perilaku. Seperti
Subscribe to:
Posts (Atom)




