Kamis, 30 Oktober 2014

GARA-GARA CINTA, ANAK MENDERITA



Oleh : Rikoyatra (with Alexandria 2014)

“Gara-gara cinta, anak menderita”. Itulah ungkapan yang dikemukakan oleh siswa saat belajar genetika di kelas tadi. Ungkapan tersebut sangat beralasan saat mempelajari pola-pola penurunan sifat secara genetik, terutama pada pembahasan kelainan dan penyakit keturunan.

Faktanya, sepasang suami istri yang normal dan sehat dapat melahirkan anak yang sakit, abnormal bahkan bersifat letal (menyebabkan kematian). Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh interaksi antar gen yang dimiliki oleh kedua pasangan tersebut.

Maka oleh sebab itu, di beberapa kota besar sudah ada klinik konsultasi genetika pra nikah yang berperan untuk memetakan gen pasangan yang akan menikah dan memprediksi kemungkinan genotip dan fenotip anak yang akan lahir dari kedua pasangan tersebut. Dari hasil pemetaan tersebut bisa direkomendasikan terapi-terapi tertentu saat kehamilan pertama dan seterusnya seperti kasus eritro blastosis fetalis pada gen ibu bergolongan darah Rhesus negatif yang berkemungkinan memiliki anak rhesus positif. Atau mungkin saja direkomendasikan untuk tidak menikah karena diprediksi dapat melahirkan anak yang haemofilia, thalasemia dan sicklemia. Semua dilakukan dalam upaya agar tidak menyebabkan terjadinya kasus “GARA-GARA CINTA, ANAK MENDERITA”.

Berikut sedikit penjelasan tentang bagaimana hal diatas bisa terjadi :

1.       Antara Fenotip dan genotip
Dua individu yang memiliki sifat tampak yang sama, belum tentu memiliki sifat genetik yang sama pula. Sifat tampak yang dapat diamati ini disebut FENOTIP, sedangkan sifat tidak tampak yang dikodekan oleh gen disebut GENOTIP. Sebagai contoh : dua orang berfenotip berambut keriting dapat memiliki kode genotip yang berbeda. Rambut keriting bersifat dominan terhadap rambut lurus, sehingga di kode kan dengan huruf K, sedangkan rambut lurus dikodekan dengan k. Perhatikan tabel berikut :

GENOTIP
FENOTIP
KK
rambut keriting
Kk
rambut keriting
kk
rambut lurus

2.       Carier (pembawa gen tertentu)
Seseorang yang berfenotip (terlihat) normal dapat saja secara genotip nya adalah carier (pembawa gen tertentu). Sebagai contoh, penyakit keturunan yang terpaut kromosom X adalah haemofilia (Xh)yaitu suatu penyakit yang menyebabkan darah sukar untuk membeku secara normal. Penyakit ini berbahaya bahkan dapat menyebabkan kematian akibat pendarahan. Berikut keterangan genotip dan fenotipnya :

GENOTIP
FENOTIP
KETERANGAN
XX
tidak haemofilia
Normal
XhX
tidak haemofilia
Carier
XhXh
haemofilia
Sakit
XY
tidak haemofilia
Normal
XhY
haemofilia
Sakit

Perhatikan ilustrasi peluang lahirnya anak haemofilia dari pernikahan pasangan sehat yang tidak mengidap haemofilia berikut :

 3.       Penyakit lain yang juga diturunkan secara genetik seperti :
Ø  SICKLEMIA (eritrosit berbentuk sel sabit),
Ø  TALASEMIA (eritrosit berbentuk lonjong, pengaruhnya baru tampak pada masa puber),
Ø  BRAKHIDAKTILI (jari tangan atau jari kaki yang lebih pendek dari ukuran normal),
Ø  ICHTYOSIS (defisiensi enzim sulfatase steroid yang menyebabkan kulit kering, tampak bersisik seperti ikan, khusunya pada lengan dan kaki)
Ø  HYPERTRICHOSIS (rambut di tempat tak semestinya)
Ø  BISU TULI,
Ø  ALBINO,
Ø  FENILKETONURIA / FKU (keterbelakangan mental akibat kelebihan fenilalanin dalam darah),
Ø  SINDAKTILI (jari lengket),
Ø  POLIDAKTILI (kelebihan jumlah jari tangan dan kaki),
Ø  DENTINOGENESIS IMPERFECTA (gigi berwarna susu),
Ø  ANODONTIA (ompong)
Ø  BOTAK, 
Ø  ANONYCHIA (tidak terdapat kuku pada sebagian jari)

Inilah salah satu dari sedemikian banyaknya manfaat dari ilmu genetika yaitu untuk mencegah kita meninggalkan/melahirkan generasi yang lemah sebagai pengganti kita secara jasmani baru kemudian secara non jasmani. Sebagaimana firman Allah SWT :

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Q.S. An Nisa’ : 9)

Wallahu a’lam

Rabu, 29 Oktober 2014

Mengalirlah Seperti Darah, Bukan Seperti Air

Oleh : Rikoyatra (with Barcelona 2014)


Mungkin inilah yang disebut dengan mengambil hikmah atas apa yang kita pelajari. Suatu ketika saat pembelajaran di kelas tentang sistem peredaran darah, seorang siswi berpendapat dengan mengeluarkan petatahnya : “mengalirlah seperti darah, bukan seperti air”.

Menarik memang, apa yang disampaikan oleh siswi tersebut karena ia berbeda dengan apa yang biasanya disampaikan bahkan dianut oleh sebagian orang. Mengapa harus darah, bukan air ? setidaknya ada beberapa alasan dari hasil diskusi dikelas bersama para murid :

1.     Darah selalu mengalir di dalam pembuluh darah yang menunjukkan bahwa segala aktifitas manusia hendaklah selalu berada dalam batasan-batasan yang sudah diatur dalam syari’at, darah akan mengalir keluar dari pembuluh darah saat pembuluh itu dirusak, ibaratkan syari’at yang telah dirusak akan menyebabkan seseorang beraktifitas diluar batas sehingga menyebabkan kerusakan dan bahaya bagi dirinya

Berbeda dengan air, prinsipnya adalah mengalir ke segala arah menuju tempat yang lebih rendah tanpa batasan. Tidak penting bagi air apakah tempat yang lebih rendah itu tempat yang baik atau buruk seperti comberan, septic tank dll, yang penting adalah tempatnya lebih rendah.


2.     Dalam setiap alirannya dan tiap tempat yang disinggahinya di dalam tubuh, darah selalu memberikan manfaat berupa oksigen segar dan nutrisi bagi setiap sel tubuh serta mengangkut zat-zat sisa metabolisme kepada saluran pembuangannya agar tidak membahayakan bagi tubuh. Ibarat manusia yang keberadaanya selalu memberi manfaat dan mengikis kemudharatan pada setiap tempat yang ia singgahi.

Sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Ali-Imran ayat 110 tentang generasi terbaik yang mengemban tugas amar ma’ruf dan nahi mungkar.

kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (QS. Ali-Imran : 110)

Air terkadang memberi manfaat bagi kehidupan pada setiap tempat yang dialirinya, namun juga dapat menyuburkan tumbuhnya kuman-kuman penyakit pada tempat-tempat tertentu, tergantung kemana arah saluran membawanya.

3.     Sehingga, darah mengalir sesuai batasan yang telah digariskan dengan prinsip membawa manfaat dan menghilangkan kemudhoratan.

Berbeda dengan air yang mengalir tanpa batasan dengan prinsip selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah tanpa melihat tujuannya, yang penting lebih rendah.

Begitulah teman, agar selamat dalam kehidupan ini maka ia butuh batasan dan prinsip yang jelas. Bukan asal mengalir saja mengikuti saluran yang kita tidak tahu ujungnya baik atau buruk.

Rasulullah SAW pernah bersabda,

“Janganlah salah satu di antara kamu sekalian bersikap imma’ah, yang jika orang lain baik maka engkau baik, dan jika mereka jelek maka engkau ikut jelek pula. Akan tetapi hendaklah engkau tetap konsisten terhadap (keputusan dirimu). Jika orang-orang baik, maka engkau juga baik; dan jika mereka jelek, hendaklah engkau menjauhi keburukan mereka.” (HR Tirmidzi)

Wallahu a’lam.

Minggu, 26 Oktober 2014

ILMU PENGETAHUAN TERUS BERKEMBANG


Oleh : Rikoyatra

ILMU PENGETAHUAN TERUS BERKEMBANG, SETIAP TEORI MEMUNGKINKAN UNTUK DIKUATKAN, BERUBAH, DIREVISI ATAU BAHKAN DITINGGALKAN, SESUAI DENGAN DITEMUKANNYA PENJELASAN DAN BUKTI ILMIAH TERBARU.....

Dahulu, karena keterbatasan peralatan dan informasi pengetahuan, J.B Lamark berpendapat bahwa : "awal mulanya semua jerapah berleher pendek, namun karena sering menjulurkan lehernya untuk mengambil makanan, maka lehernya semakin panjang, dan perubahan ini diturunkan" (teori used and disused).










Pendapat ini kemudian dibantah dengan penelitian August Weismann yang memotong ekor tikus jantan dan betina dewasa, kemudian kedua tikus tersebut dikawinkan dan ternyata keturunannya adalah anak tikus yang memiliki ekor yang utuh. Lalu anak tikus tadi dipotong lagi ekornya kemudian dikawinkan, ternyata juga melahirkan anak tikus yang berekor. Percobaan ini dilanjutkan hingga 20 generasi anak tikus, namun tetap menghasilkan tikus berekor. 


Sehingga disimpulkanlah bahwa perubahan bentuk tubuh akibat adaptasi lingkungan tidak di turunkan, melainkan melalui perubahan pada gen/kromosom sel gamet.

Dalam kasus lain : Aristoteles di zamannya mengatakan bahwa makhluk hidup terbentuk secara spontan dari benda tak hidup, sebagai contoh : cacing dari tanah, ikan dari lumpur, nyawa adalah campuran dari 4 unsur : air, udara, tanah dan api. Paham ini diterima berabad-abad lamanya hingga muncul teori baru biogenesis.

Pasti orang zaman sekarang bilang teori Aristoteles dan Lamarck adalah teori yang mengada-ngada dan tidak masuk akal. Tapi siapa tau, bila ia hidup di zamannya Aristoteles atau Lamarck dengan sumber informasi dan pengetahuan yang sangat terbatas, mungkin saja ia akan menerima teori tersebut.

Mempelajari sejarah perkembangan ilmu pengetahuan membuat kita jadi lebih bijaksana, jangan asal terima, atau asal menolak, bijaksanalah dalam bersikap, setiap zaman memiliki kondisi dan daya dukung yang berbeda-beda. Mungkin saja sebagian guru hanya mengajarkan seolah-olah teori itu adalah sebuah kebenaran atau sebaliknya ada juga yang mengatakan itu mutlak salah, hanya guru yang bijaksana yang akan mengajarkan hikmah dari setiap sejarah tersebut. 

Ada banyak pelajaran dari kesalahan orang-orang terdahulu, walau demikian satu hal yang tidak dapat dinafikan, setidaknya mereka telah merumuskan suatu kerangka berpikir untuk terus kita sempurnakan.

Rabu, 22 Oktober 2014

Hal tak terduga

Dalam hidup 'kan selalu ada hal tak terduga, sebaik apapun rencana dan persiapan..... namun hal yang paling penting adalah menyiapkan diri untuk siap menghadapi semua hal yang tak terduga karena ia kan datang tanpa bisa ditolak.

RELATIF

Tinggi - rendah
Besar - kecil
Jauh - dekat
Berat - ringan
Mudah - sulit
Menyenangkan - membosankan
Menggembirakan - menyedihkan

SEMUA BERSIFAT RELATIF
TERGANTUNG CARA DAN SUDUT PANDANG KITA DALAM MENILAI SESUATU.....


Selasa, 21 Oktober 2014

PILIH MODERN ATAU SEHAT ?

Oleh : Rikoyatra


Saat ini kita sering menemukan closet duduk dibandingkan closet jongkok, bahkan disertai dengan tulisan di larang jongkok di atas closet duduk.

Sebenarnya, posisi yang lebih sehat untuk Buang Air Besar (BAB) adalah posisi alami dengan jongkok, karena pada posisi tersebut otot puborectalis mengendurkan tarikannya pada rektum yang akan menyebabkan tekanan intraabdomen jadi meningkat, sehingga lebih memudahkan kita mengeluarkan feses pada posisi tersebut.

Sebaliknya, posisi duduk menyebabkan otot puborectalis menarik rektum yang akan menyebabkan tekanan intraabdomen tidak meningkat, sehingga menyebabkan butuh tenaga dan dorongan lebih besar pada rektum untuk mengeluarkan feses.

Mungkin, itulah mengapa dalam ilmu fiqh dijelaskan bahwa tidur dalam posisi duduk mantap tidak membatalkan wudhu, karena akan sulit bagi seseorang untuk kentut dalam posisi duduk mantap.
 

Walau demikian, jangan coba-coba untuk jongkok di atas closet duduk karena dapat menimbulkan bahaya lain yang lebih besar bila terpeleset.  Sebaiknya diatur saja sedemikian rupa seperti gambar berikut :

Posisi lain yang tidak dianjurkan dapat dilihat seperti gambar di bawah ini :) :


rikoy@tra

Kamis, 16 Oktober 2014

CHANGE


It is not the strongest of the species that survive, nor the most intelligent, but the one most responsive to change (Charles Darwin)